Kamis, 15 Oktober 2015

The tears of love

        Malam ini malam yang berat untuk ku, ketika aku sudah mencintai seorang lelaki. Namanya abdillah, orang yang setahun lebih ini mengisi hari hari ku. Aku kira dia orang baik, tapi setiap pertengkaran yang kita lewati, dia selalu bersikap kasar terhadapku ketika aku tersulut emosi. Malam itu, aku mengkhiri hubungan ini bukan tanpa alasan namun rasa sakit yang tak lagi terbendung meluapkan kekesalannya.
        Hari itu aku menunggu nya pergi bersama teman temannya, 3 jam, 6jam, 9jam, 12jam, 15jam terlewat untuk menunggunya. Hari itu seperti baik-baik saja. Tapi pagi hari suatu kebohongan yang di tutupinya terbongkar. "Abdillah ternyata doyan, dia duduk minum hingga 5 kali putaran lalu naik keatas" kata ivan. Aku yang mendengar itu tersayat, hingga aku teringat suatu siang. Ketika aku merindukannya, aku ingin memperbaiki hubungan kita yang renggang karna pernah bertengkar akhir akhir ini. Aku bangun pagi pagi buta menaiki motor seorang diri menuju stasiun. Aku langsung membeli tiket keberangkatan ke malang pada jam 07.40. Dikereta akupun harus berdiri 2.5jam hingga pukul 10.11 aku menunggunya. Aku gerakkan langkahku sembari memberikan senyum di setiap langkahku berharap cepat bertemu sang pujaan. Pukul 10.15 aku duduk dibawah pohonan rindang di pujasera dekat alun alun malang. Menunggu dia menjemputku. pukul 10.46 dia datang menutup mataku dari arah belakangku sambil berucap "lama ya?" "iya lama banget, mesti membuatku menunggu" sahutku rada kesal.
          Kita lelap berbincang bincang hingga dia menunjukan kamera "ini loh fotoku sama bima kemarin di paralayang" dia terus melihatkan foto foto nya kepadaku, hingga di beberapa foto belakang ada foto dia bersama cewe namanya gitu, mereka bertatapan mesra layaknya kedua pasangan, di temani sunset diatas dataran tinggi foto mereka terabadikan sempurna. Hati ku terasa di remas, mataku sekuat mungkin aku menahan tetesan air mata ku, panas panas rasanya hati mataku melihatnya, seketika aku diam, "kamu kenapa kok diem aja?" kata abdillah "gak papa pusing" sahutku "mau minum obat? Aku ada" "gak gausah" kataku ketus.
Hingga pukul 11.30 kita memutuskan untuk ke pantai. Di perjalanan aku menutup kaca helm ku, aku menangis sekencang sederas yang aku bisa meluapkan rasa sakit kecewa yang ada. "Percuma aku ke malang, percuma aku kesini dihadiahi seperti ini" batinku berkata. Mungkin baginya itu biasa saja, dia merasa tidak ada apaapa, tetapi bagiku itu sungguh membuatku cemburu, membuatku tidak dihargai, dan tidak bisa menjaga perasaanku.
           Setelah satu jam perjalanan, Bima memutuskan nberhemti sebentar karna ingin mengambil foto dari sudut sana. Aku tetap berdiam diri, dia terus bertanya kepadaku. "Aku jijik sama kamu!!" kataku "apa ulangin lagi?" "aku jijik sama kamu" "oh gitu, udah ya selese aja sampe sini iya" katanya. Aku jijik sama dia karena dia tidak bisa menjaga jaraknya dengan perempuan lain, tidak bisa menjaga sikapnya, tidak bisa berkata jujur kepadaku. Aku terus diam, marah kepadanya. Sesekali dia menggandengku tetapi selalu aku hempaskan tangannya. Hingga dia muak dia berteriak sungguh keras "KAMU MAU PULANG MAU MARAH TERSERAH!! AKU GAPEDULI" aku hanya tertunduk menangis "KAMU EMANG *tiiit*" ucapnya kata kata kasar yang keras terhadapku. Aku terus menangis lalu dia meraih tanganku dan bilang "ayok berdiri, aku minta maaf, iya aku salah, ayok berdiri" aku tetap tidak ingin berdiri "ayo sekali aja berdiri diliatin orang orang" akhirnya aku berdiri dan dia bilang "aku gak ngapa ngapain aku cuma mau kamu, sudah ya aku minta maaf".
                                                   ***
           Malam itu setelah pulang dari pantai, aku bima dan abdillah duduk di warung pinggir jalan untuk makan. Tetapi tidak lama bima menjemput gita. Sebenarnya aku malas bertemu dia, sialnya bima dan abdillah menyuruh aku mengobrol dengan gita. Aku mulai Badmood, aku menelefon temenku meirita karna ingin menginap di kosnya, tetapi ternyata ada ibu kos nya yang galak. Dan akhirnya, dengan berat hati aku tidur semalam di kos gita. Akhirnya kami memiutuskan untuk kembali, bima dan abdillah ke kos nya, aku dan gita ke kos nya gita.
           Di kos nya gita kami mengobrol "kamu suka olahraga nit?" "suka kok aku" "wah kebalikkannya abdillah dong, dia kan katanya gasuka olahraga" "hehe iya" aku menjawabnya dengan ogah ogahan. "Oiya kamu kok tau bekasi daerah duta kranji?" kata gita "tau aja punya temen aja di jabodetabek, kan gamers aku"jawabku "wah kebalikan banget sama abdillah ya, dia anaknya ga aktif kaya kamu banget kayanya" hmmmm "oiya abdillah perutnya gendut yaa hehe mau aku becandain dia gitu tapi takit tersinggung hehe" tambahnya "gapapa kok aku juga biasanya bilang perut dia gendut" dalam hatiku berkata, "anak yang baru seminggu kenal abdillah bisa tau dia detail banget, bisa tau apa aja, pasti mereka sering ngobrol berdua dan sudah akrab" batinku berkata. Sepertinya tidak mungkin bima memilih kenalan random di group jurusannya abdillah kalau bukan abdillah yang merekomendasikannya dulu karna sudah kenal. Hati perempuan mana yang tidak sakit hati
                                                  ***
        Aku pulang ke surabaya dengan banyak pertanyaan. Hingga hari rabu di sela sela aku menunggunya ke pantai bersama teman teman kelasnya. Aku bilang aku "give up" aku gak kuat sakit gini terus. Aku sudah banyak sekali berkorban untuknya, selalu menjaga perasaannya, seperti ulang tahunnya pun hingga pukul 1 malam aku tetap menghias kue ulang tahun untuknya dan jam 4 aku bangun untuk mempersiapkan kejutanku di malang. Rasanya setiap apa yang aku perbuat aku hanya ingin dia senang,  seperti aku ingin hidup untuk membahagiakannya, apapun aku lakukan. Tapi semua tidak berbalik untukku, dia masih memikirkan kesenangannya, belum memikirkan perasaanku, kadang yang menurutnya biasa untuknya, itu menyakitkan untukku. Di malam itu aku mengakhiri hubungan itu. Dia awalnya bersih keras dia tidak salah apa apa, dia malah menyalahkan ku yang ingin di mengerti. Dia tidak pernah menghitung berapa tetes air mata yang aku teteskan untuknya. Malam itu aku sibuk menghapus air mataku yang tanpa di sadari terus mengalir. Edelweis, teman yang tau perasaan ku dari awal, ceritaku kenapa aku begini. Aku menyuruh abdillah tanya alasan kenapa aku begini, tetapi edelweis malah bilang "aku gamau disangkut pautin sama masalah di hubunganmu nit" akhirnya aku menyuruh edelweis untuk mengabaikannya atau delete contact abdillah jika memang edelweis merasa masalahku menganggunya. Abdillah yang awalnya memegang omongannya katanya "tetep sama kamu!" ucapnya hingga berubah dalam 5 menit "kalo gak mau yaudah, barangmu apa saja nanti aku balikin" teriris hatiku, menetes air mataku tanpa berhenti. Ternyata yang aku puja ternyata hanya sebatas 5menit mencintaiku untuk mempertahankanku, TAEK!!  Itu pm yang dia tulis ditunjukan untukku. Untukku wanita yang sedang menangisinya, wanita yang telah menemaninya setahun lebih, wanita yang mengorbankan kesenangannya untuk lelaki tercintanya, wanita yang rela melakukan apasaja untuknya, wanita yang mengorbankan masa depannya untuk lelaki yang dicintainya. Dan ucapan terimakasihnya adalah TAEK!!
                                             ***